“Tuhan memang satu, kita yang tak sama. Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi…”
—
“Kamu sayang aku, kan, Bi?” tanyaku sambil menyandarkan kepalaku di bahu Bian.
“Always. Kamu tahu itu,” jawabnya mantap. Jawaban yang menenangkan. Membahagiakan.
“Kamu tahu, kan, Bi, kita berbeda,” ucapku lirih. Berulang kali sudah
kita membicarakan ini. Perbedaan ini. Dan rasanya masih sama. Sesak.
“Bukan hanya tahu, aku memahaminya,”
“Lalu kenapa kamu bertahan?”
“Karena Tuhan belum menakdirkanku untuk pergi, Maya,” katamu tulus
sambil mengusap pelan rambutku. Ah, ini terlalu indah. Aku menikmatinya
dalam diam, tiap gerakan jemarimu yang menghangatkan kepalaku.
Kupejamkan mataku erat untuk mengabadikan perasaan ini.
“Bi,” Aku memanggilnya lagi. Bian hanya berdeham singkat.
“Kenapa mereka tidak menyukai hubungan kita?” tanyaku mengingat
kejadian kemarin. Dimana mama memarahiku karena aku berpacaran dengan
Bian.
“Karena mereka tidak mengerti bagaimana menjalani cinta dengan sebuah perbedaan,”
“Mama bilang Tuhan melarang. Dalam kitabku juga tertulis seperti itu,
aku takut,” setetes air mata menitik saat aku mngucapkan kata terakhir.
“Ya, memang benar. Tapi pasti ada alasan kenapa Tuhan menitipkan rasa
pada dua orang yang berbeda keyakinan,” jawabmu lagi. Aku terdiam.
Kuarahkan mataku ke atas sana. Tempat dimana Tuhan kita berada.
Tuhan, apa kau melihat kami? Dua anak manusia yang menjalani cinta
dengan jurang diantaranya. Bersekat sebuah tabir tebal yang bernama
Iman. Perbedaan yang sulit untuk menjadi satu tanpa campur tanganmu.
“Tidak bisakah mereka melihat betapa bahagianya aku dan kamu? Tidak
bisakah mereka mengerti?” cercaku pada Bian. Kutegakkan dudukku aga
tangis ini pecah dengan leluasa. “Kita bukan seorang pendosa, Bian. Kita
juga bukan pezinah. Lalu kenapa mereka memandang kita seakan kita lebih
berdosa dari mereka?” lanjutku. Bian menggenggam tanganku erat.
“Look at me, Maya.” suruhnya. Aku menoleh kearahnya perlahan. “Tuhan
memberikan kita waktu untuk bersama. Dia mengizinkan kita untuk saling
menemani. Lalu kenapa kamu terbeban dengan mereka?” katanya sambil
menghapus air mata yang belum sepenuhnya membasahi pipiku. Betapa
beruntungnya aku memiliki lelaki seperti Bian. Iya, kan?
Bian meraih tubuhku dan memelukku dengan erat. Seakan tak ingin
kehilangan, ia mencium puncak kepalaku dengan lembut. Ku
tenggelamkanwajahku di dadanya yang bidang. Membiarkan perasaan tenang
ini menjalar keseluruh hatiku.
“Kadang aku berpikir sampai kapan kita sanggup bertahan seperti ini…”
ucapku masih dalam dekapannya. Bian menyudahi pelukannya dan menyentuh
kedua pipiku. Ditatapnya kedua mataku dengan lembut. Aku dapat melihat
keyakinan didalam matanya yang bulat sempurna.
“Akan lebih lama dari waktu yang dibutuhkan kepompng untuk menjadi seekor kupu-kupu,”
—
Tidak ada komentar:
Posting Komentar