Ada dunia baru yang kuciptakan saat jemariku mulai menorehkan kata ...

Jumat, 25 Mei 2012

Tuhan ...

Selamat siang, Tuhan. Selamat hari Jum’at. Bagaimana kami hari ini, Tuhan? Semoga tidak semakin mengecewakan. Semoga semakin dekat denganMu.

Tuhan, siang ini aku ingin bertanya lagi. Apa Kau melihatnya, Tuhan? Ya, perasaan yang terselip didalam sana. Dalam seonggok daging dibalik dadaku. Perasaan apa itu, Tuhan? Takutkah? Ragukah? Kenapa rasanya sesak?

Bisakah Kau menjawabnya sekarang? Atau setidaknya tunjukkan saja :)
Maaf mengganggu harimu, Tuhan. Tapi sungguh, hanya padaMu aku bergantung.


With love,

Rezky, Kiky, Kajol :)

(Malang, 25 Mei 2012, 12.10)

Kamis, 24 Mei 2012

Kita, Tuhan, Cinta ...

“Tuhan memang satu, kita yang tak sama. Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi…”


“Kamu sayang aku, kan, Bi?” tanyaku sambil menyandarkan kepalaku di bahu Bian.
“Always. Kamu tahu itu,” jawabnya mantap. Jawaban yang menenangkan. Membahagiakan.
“Kamu tahu, kan, Bi, kita berbeda,” ucapku lirih. Berulang kali sudah kita membicarakan ini. Perbedaan ini. Dan rasanya masih sama. Sesak.
“Bukan hanya tahu, aku memahaminya,”
“Lalu kenapa kamu bertahan?”
“Karena Tuhan belum menakdirkanku untuk pergi, Maya,” katamu tulus sambil mengusap pelan rambutku. Ah, ini terlalu indah. Aku menikmatinya dalam diam, tiap gerakan jemarimu yang menghangatkan kepalaku. Kupejamkan mataku erat untuk mengabadikan perasaan ini.

“Bi,” Aku memanggilnya lagi. Bian hanya berdeham singkat.
 “Kenapa mereka tidak menyukai hubungan kita?” tanyaku mengingat kejadian kemarin. Dimana mama memarahiku karena aku berpacaran dengan Bian.
“Karena mereka tidak mengerti bagaimana menjalani cinta dengan sebuah perbedaan,”
“Mama bilang Tuhan melarang. Dalam kitabku juga tertulis seperti itu, aku takut,” setetes air mata menitik saat aku mngucapkan kata terakhir.
“Ya, memang benar. Tapi pasti ada alasan kenapa Tuhan menitipkan rasa pada dua orang yang berbeda keyakinan,” jawabmu lagi. Aku terdiam. Kuarahkan mataku ke atas sana. Tempat dimana Tuhan kita berada.

Tuhan, apa kau melihat kami? Dua anak manusia yang menjalani cinta dengan jurang diantaranya. Bersekat sebuah tabir tebal yang bernama Iman. Perbedaan yang sulit untuk menjadi satu tanpa campur tanganmu.

“Tidak bisakah mereka melihat betapa bahagianya aku dan kamu? Tidak bisakah mereka mengerti?” cercaku pada Bian. Kutegakkan dudukku aga tangis ini pecah dengan leluasa. “Kita bukan seorang pendosa, Bian. Kita juga bukan pezinah. Lalu kenapa mereka memandang kita seakan kita lebih berdosa dari mereka?” lanjutku. Bian menggenggam tanganku erat.

“Look at me, Maya.” suruhnya. Aku menoleh kearahnya perlahan. “Tuhan memberikan kita waktu untuk bersama. Dia mengizinkan kita untuk saling menemani. Lalu kenapa kamu terbeban dengan mereka?” katanya sambil menghapus air mata yang belum sepenuhnya membasahi pipiku. Betapa beruntungnya aku memiliki lelaki seperti Bian. Iya, kan?

Bian meraih tubuhku dan memelukku dengan erat. Seakan tak ingin kehilangan, ia mencium puncak kepalaku dengan lembut. Ku tenggelamkanwajahku di dadanya yang bidang. Membiarkan perasaan tenang ini menjalar keseluruh hatiku.

“Kadang aku berpikir sampai kapan kita sanggup bertahan seperti ini…” ucapku masih dalam dekapannya. Bian menyudahi pelukannya dan menyentuh kedua pipiku. Ditatapnya kedua mataku dengan lembut. Aku dapat melihat keyakinan didalam matanya yang bulat sempurna.

“Akan lebih lama dari waktu yang dibutuhkan kepompng untuk menjadi seekor kupu-kupu,”

Baca Ini, Tuhan ...

Selamat malam, Tuhan. Bagaimana kabarMu? Aku yakin Kau akan selalu baik-baik saja. Sebaik Kau menjaga kami, umat-umat-Mu.

Ya Rabb, malam ini sebuah pertanyaan kembali memenuhi pikiranku. Sebuah pertanyaan yang entah kapan jawabannya akan datang. Pertanyaan yang jawabannya telah bergabung dengan mimpiku. Harapanku.

Rabb, keajaiban itu … masih adakah? Kesempatan itu akan datangkah?

Entahlah, Tuhan. Ragu itu kembali hadir. Keyakinan itu kembali sirna. Bukan … bukan keraguan terhadapMu. Aku ragu dengan kemampuanku meraih mimpi-mimpi itu. Bisakah?

Ya Rabb, bolehkah aku meminta lagi? Aku tahu aku sudah banyak merepotkanMu, tapi pada siapa lagi aku harus meminta? Pada siapa lagi aku bergantung? Jadi … boleh ya aku meminta lagi malam ini?

Aku minta, tetaplah menyayangiku, Ya Rabb. Tetaplah menjagaku. Tetaplah dekat. Peluk aku. Dan selalu ingatkan aku jika aku melakukan kesalahan. Jagalah hatiku. Genggam dan kumohon kuatkan dia. Lapangkan, Tuhan.

Terimakasih, Ya Allah. Atas semua warna yang kau percikkan dalam hidupku. Atas semua cinta, semua rezki, setiap hembusan nafas, kedipan mata, SEMUANYA …!

Sudah lama aku tidak mengucapkannya, but from the deepest of my heart, I DO LOVE YOU, My Lord. Sangat menyayangimu.

Malang, 23 Mei ’12
21:35 Pm

Rezky Permata Putri

Aku Sukan Saat Aku ...

Aku suka saat hatiku mulai mencarimu disetiap sudutnya.
Aku suka saat otakku bingung karena tak dapat menemukan keberadaanmu
Saat aku mulai membaca ulang pesan darimu
Saat aku kembali merasakan sakit karena kehilanganmu

Aku suka saat gundah ini menorehkan namamu
Saat aku harus mencoba membunuh semua khawatirku tentangmu
Saat hati dan pikirku tak berhenti menyebut namamu

Aku suka … saat aku merindukanmu begitu dalam
Aku suka … saat hatiku menyadari bahwa kamulah yang masih menjadi rajanya

Aku suka rasa ini
Suka air mata ini
Senyum ini
Perih ini

Aku cinta saat aku menyadari bahwa aku masih MENYAYANGIMU …

With Love,
Kajol :’)

Tak Menyatu

Kau lelah
Lalu mulai beranjak
Dari hati yang mulai buram
Meninggalkannya sendiri
Bersama resah yang dideranya

Maafkan aku yang tak bisa menahan
Karena aku pun kini lelah
Aku hanya inginkan bingar
Bukan cerca

Kau… Aku…
Adalah satu yang tak menyatu

Masih Ada

Pikirku menggelora
Liar meraba serpihan kenangan tentangmu
Menyatukan pecahan kisah yang berserakan
Mencoba membuatnya utuh
Meski takkan pernah menyatu

Malam,
Hujan,
Dan serpihan kenangan yang tersisa
Membuatnya indah.

Kamu
Aku
Dan kisah yang terajut
Membuatnya merah.

Kusadari kini
Masih ada bayangmu
Dalam malam yang kian menua
Dalam hati yang kian mencinta
Pun fikir yang mulai melupa

Rindu Itu Ada

Gelap ini,
Rindu itu masih ada
Memenuhiku
Tumpah lalu ruah

Mencari pemiliknya
Mengalir bersama muara merah
Yang kusebut darah

Menyusuri labirin hitam
Lalu jatuh bagai kristal
Yang kusebut air mata

Dia hanya inginkan satu nama
Namamu

Dancing In The Rain


Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya


Melawan keterbatasan
Walau sedikit kemungkinan
Tak akan menyerah untuk hadapi
Hingga sedih tak mau datang lagi 
 
janganlah berganti
janganlah berganti
Tetaplah seperti ini

Ipank – Sahabat Kecil


Aku masih mengingat hari itu. Hari Minggu yang sangat membahagiakan. Dimana kalian mengajakku yang sedang galau untuk bermain dan menghabiskan waktu bersama. Hari dimana aku mengklaim dalam hati bahwa kalian adalah milikku. Kamu, dia, dan aku. Kita.

Hari itu kita masih sangat unyu, bukan? Dimana masing-masing dari kita masih memikirkan masalah ‘teman hati’. Kamu dengan diamu, dia dengan wanitanya, dan aku dengan lelakiku. Masalah yang sangat klise. Tapi tahukah kalian? Aku sangat bersyukur akan masalah-masalah kecil itu karena dari sanalah aku bisa bertemu kalian. Dan dari sana pula aku bisa membuka mata bahwa SAHABAT itu bukan hanya sebuah TEORI.

Hari itu banyak cerita yang terbagi. Banyak tawa yang menggelegar, banyak hal-hal konyol yang kita lakukan.  Dia dengan kekonyolannya sukses membuat bibir kita tak bisa mengatup. Aku dan semua ceritaku selalu membuat kalian memeras otak untuk memberikan solusi pasti. Kamu bersama tawamu yang selalu bisa memberi kocokan hebat diperut kami.

Siang itu mendung. Seperti biasa aku dan kamu memintanya untuk meramalkan seberapa lama hujan saat ini. Dia bilang “Deras tapi cuma bentar,” kita berdua tertawa. Mengejek jawaban yang sebenarnya selalu benar. Kita tahu itu. Dia, anak pecinta alam itu selalu saja benar.

Gerimis mulai turun dan kita masih saja tidak menghiraukannya. Kita masih saja sibuk dengan kita.
Sibuk dengan Chemi dan Mimi. Sibuk dengan ulat bulu yang dia temukan disemak-semak depan sekolah. Aku dan kamu juga masih sibuk mendengar setiap kata yang keluar dari bibir lelaki gila itu!
Sampai akhirnya hujan benar-benar turun. Deras. Lebat. Kita sibuk menyelamatkan barang-barang yang kita bawa.  “Aku, lho, pingin hujan-hujanan. Hujan-hujanan, yok!” celotehmu seketika. Aku menyetujuinya, begitu juga dia yang sontak berkata “Ayo, sudah lama gak main hujan,”

Dia berlari meninggalkan kita yang menyusul dobelakangnya, menyeberangi jalanan besar didepan sekolah menuju sebuah taman kecil yang disebut Tugu. Sesampainya disana kita menari, tertawa, saling berteriak. Menikmati guyuran shower alam yang kita tahu gak akan lama. Tahukah kalian? Saat itu adalah kali pertama aku bermain hujan bersama teman-temanku.

Melihat kalian menari dan tertawa membuatku menyadari satu hal. Bahwa kalian adalah milikku. Dua orang yang takkan pernah bisa aku temukan ditempat lain. Kalian LIMITED EDITION!


Hari ini, aku merindukan saat-saat itu. Hari-hari itu. Aku merindukan senja yang seperti saat itu. Aku rindu perbincangan-perbincangan seperti hari-hari itu. Aku kangen tingkah konyolnya dan tawamu. Aku merindukan kalian!
Ada beberapa orang yang sampai saat ini ada dihatiku dan kusayangi. Dan salah duanya adalah KAMU dan DIA!

With love
Kajol