Ada dunia baru yang kuciptakan saat jemariku mulai menorehkan kata ...

Rabu, 24 April 2013

Looks Like I Feel



This is the first time, my face has been illustrated by someone. 


Its almost a year, since the first time i put my hand on this keyboard and wrote something. Dan ssore ini aku kembali mengetikkan jemariku diatas keyboard yang sama dengan cerita yang berbeda.

Aku ingin bercerita tentang keadilan Tuhan yang telah mengirimkan sebuket cinta untuk hatiku yang baru saja terluka. Tentang seseorang yang sudah hampir tiga bulan ini mengisi hari-hariku dengan warna-warnanya. Seseorang yang telah datang dan mengetuk lembut pintu 'rumahku', lalu mencuri semua isinya, Tanpa sisa. Bodohnya, aku suka kecurian. Aku suka saat hatiku diambil sepenuhnya. Ya, Aku suka pencuri itu.

Pencuri yang tatapannya selalu bisa membuat perutku bergejolak. Pencuri yang sanggup membuatku lumpuh dengan semua kalimatnya. Dia yang diciptakan begitu memesona bagi kedua mataku. Dia yang dengan pelukannya sanggup menenangkan dan menghangatkan tubuh rapuhku. Dia yang bernama ... Kamu. :)

We are :)

Dia yang sanggup membuatku sibuk berdandan sebelum bertemu dengannya. Dia yang sanggup membuatku tersenyum bahkan saat sekedar membaca last conversation kita tadi malam. Dia yang membuatku jatuh cinta pada setiap genggaman tangan hangat miliknya. Dia dan 'Si Merah' yang kadang suka membuat kaki-kakiku kesemutan. Si anti-mainstream yang membuatku ingin memberikan yang terbaik yang aku punya tanpa dia harus meminta.
Si Merah 
for you :)


Dia yang selalu terlihat bahagia saat bersamaku.



TGIFU :')
Dia yang membuatku jatuh cinta pada senyumannya ...

love!

Dia yang selalu membuatku mencintai pagi-ku karena sapa lembutnya. Yang pada setiap pertemuan selalu meluangkan waktu untuk mengecup punggung tanganku, kening, pipi, juga bibir. Dia yang telah menerima titah Ayah untuk menjagaku sebaik mungkin. Dia yang selalu ada. Selalu me-merahmuda-kan.

Pada setiap perlakuanmu yang mengagungkan,
Pada semua kalimat manis yang menyenangkan,
Untuk setiap kecup lembut,
Genngaman hangat,
Senyum yang melumpuhkan,
dan untuk semua usaha yang sudah kamu lakukan untuk membuatku bahagia...
Aku berterima kasih. :'))


"I will only hold you, tightly. and never break anything of yours," he said.
"I can give twice what you need, twice what you gave,"
"You deserved to be love like this,"
"Kamu yang manis, Ki. Aku pait. Kita jadinya cokelat,"

Terimakasih sudah datang, mencuri, dan singgah. Semoga kamu berkenan untuk singgah. Semoga aku bisa menemanimu selama yang aku bisa. 

welcome to my life, love ..

Kiky,


Jumat, 25 Mei 2012

Tuhan ...

Selamat siang, Tuhan. Selamat hari Jum’at. Bagaimana kami hari ini, Tuhan? Semoga tidak semakin mengecewakan. Semoga semakin dekat denganMu.

Tuhan, siang ini aku ingin bertanya lagi. Apa Kau melihatnya, Tuhan? Ya, perasaan yang terselip didalam sana. Dalam seonggok daging dibalik dadaku. Perasaan apa itu, Tuhan? Takutkah? Ragukah? Kenapa rasanya sesak?

Bisakah Kau menjawabnya sekarang? Atau setidaknya tunjukkan saja :)
Maaf mengganggu harimu, Tuhan. Tapi sungguh, hanya padaMu aku bergantung.


With love,

Rezky, Kiky, Kajol :)

(Malang, 25 Mei 2012, 12.10)

Kamis, 24 Mei 2012

Kita, Tuhan, Cinta ...

“Tuhan memang satu, kita yang tak sama. Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi…”


“Kamu sayang aku, kan, Bi?” tanyaku sambil menyandarkan kepalaku di bahu Bian.
“Always. Kamu tahu itu,” jawabnya mantap. Jawaban yang menenangkan. Membahagiakan.
“Kamu tahu, kan, Bi, kita berbeda,” ucapku lirih. Berulang kali sudah kita membicarakan ini. Perbedaan ini. Dan rasanya masih sama. Sesak.
“Bukan hanya tahu, aku memahaminya,”
“Lalu kenapa kamu bertahan?”
“Karena Tuhan belum menakdirkanku untuk pergi, Maya,” katamu tulus sambil mengusap pelan rambutku. Ah, ini terlalu indah. Aku menikmatinya dalam diam, tiap gerakan jemarimu yang menghangatkan kepalaku. Kupejamkan mataku erat untuk mengabadikan perasaan ini.

“Bi,” Aku memanggilnya lagi. Bian hanya berdeham singkat.
 “Kenapa mereka tidak menyukai hubungan kita?” tanyaku mengingat kejadian kemarin. Dimana mama memarahiku karena aku berpacaran dengan Bian.
“Karena mereka tidak mengerti bagaimana menjalani cinta dengan sebuah perbedaan,”
“Mama bilang Tuhan melarang. Dalam kitabku juga tertulis seperti itu, aku takut,” setetes air mata menitik saat aku mngucapkan kata terakhir.
“Ya, memang benar. Tapi pasti ada alasan kenapa Tuhan menitipkan rasa pada dua orang yang berbeda keyakinan,” jawabmu lagi. Aku terdiam. Kuarahkan mataku ke atas sana. Tempat dimana Tuhan kita berada.

Tuhan, apa kau melihat kami? Dua anak manusia yang menjalani cinta dengan jurang diantaranya. Bersekat sebuah tabir tebal yang bernama Iman. Perbedaan yang sulit untuk menjadi satu tanpa campur tanganmu.

“Tidak bisakah mereka melihat betapa bahagianya aku dan kamu? Tidak bisakah mereka mengerti?” cercaku pada Bian. Kutegakkan dudukku aga tangis ini pecah dengan leluasa. “Kita bukan seorang pendosa, Bian. Kita juga bukan pezinah. Lalu kenapa mereka memandang kita seakan kita lebih berdosa dari mereka?” lanjutku. Bian menggenggam tanganku erat.

“Look at me, Maya.” suruhnya. Aku menoleh kearahnya perlahan. “Tuhan memberikan kita waktu untuk bersama. Dia mengizinkan kita untuk saling menemani. Lalu kenapa kamu terbeban dengan mereka?” katanya sambil menghapus air mata yang belum sepenuhnya membasahi pipiku. Betapa beruntungnya aku memiliki lelaki seperti Bian. Iya, kan?

Bian meraih tubuhku dan memelukku dengan erat. Seakan tak ingin kehilangan, ia mencium puncak kepalaku dengan lembut. Ku tenggelamkanwajahku di dadanya yang bidang. Membiarkan perasaan tenang ini menjalar keseluruh hatiku.

“Kadang aku berpikir sampai kapan kita sanggup bertahan seperti ini…” ucapku masih dalam dekapannya. Bian menyudahi pelukannya dan menyentuh kedua pipiku. Ditatapnya kedua mataku dengan lembut. Aku dapat melihat keyakinan didalam matanya yang bulat sempurna.

“Akan lebih lama dari waktu yang dibutuhkan kepompng untuk menjadi seekor kupu-kupu,”

Baca Ini, Tuhan ...

Selamat malam, Tuhan. Bagaimana kabarMu? Aku yakin Kau akan selalu baik-baik saja. Sebaik Kau menjaga kami, umat-umat-Mu.

Ya Rabb, malam ini sebuah pertanyaan kembali memenuhi pikiranku. Sebuah pertanyaan yang entah kapan jawabannya akan datang. Pertanyaan yang jawabannya telah bergabung dengan mimpiku. Harapanku.

Rabb, keajaiban itu … masih adakah? Kesempatan itu akan datangkah?

Entahlah, Tuhan. Ragu itu kembali hadir. Keyakinan itu kembali sirna. Bukan … bukan keraguan terhadapMu. Aku ragu dengan kemampuanku meraih mimpi-mimpi itu. Bisakah?

Ya Rabb, bolehkah aku meminta lagi? Aku tahu aku sudah banyak merepotkanMu, tapi pada siapa lagi aku harus meminta? Pada siapa lagi aku bergantung? Jadi … boleh ya aku meminta lagi malam ini?

Aku minta, tetaplah menyayangiku, Ya Rabb. Tetaplah menjagaku. Tetaplah dekat. Peluk aku. Dan selalu ingatkan aku jika aku melakukan kesalahan. Jagalah hatiku. Genggam dan kumohon kuatkan dia. Lapangkan, Tuhan.

Terimakasih, Ya Allah. Atas semua warna yang kau percikkan dalam hidupku. Atas semua cinta, semua rezki, setiap hembusan nafas, kedipan mata, SEMUANYA …!

Sudah lama aku tidak mengucapkannya, but from the deepest of my heart, I DO LOVE YOU, My Lord. Sangat menyayangimu.

Malang, 23 Mei ’12
21:35 Pm

Rezky Permata Putri

Aku Sukan Saat Aku ...

Aku suka saat hatiku mulai mencarimu disetiap sudutnya.
Aku suka saat otakku bingung karena tak dapat menemukan keberadaanmu
Saat aku mulai membaca ulang pesan darimu
Saat aku kembali merasakan sakit karena kehilanganmu

Aku suka saat gundah ini menorehkan namamu
Saat aku harus mencoba membunuh semua khawatirku tentangmu
Saat hati dan pikirku tak berhenti menyebut namamu

Aku suka … saat aku merindukanmu begitu dalam
Aku suka … saat hatiku menyadari bahwa kamulah yang masih menjadi rajanya

Aku suka rasa ini
Suka air mata ini
Senyum ini
Perih ini

Aku cinta saat aku menyadari bahwa aku masih MENYAYANGIMU …

With Love,
Kajol :’)

Tak Menyatu

Kau lelah
Lalu mulai beranjak
Dari hati yang mulai buram
Meninggalkannya sendiri
Bersama resah yang dideranya

Maafkan aku yang tak bisa menahan
Karena aku pun kini lelah
Aku hanya inginkan bingar
Bukan cerca

Kau… Aku…
Adalah satu yang tak menyatu

Masih Ada

Pikirku menggelora
Liar meraba serpihan kenangan tentangmu
Menyatukan pecahan kisah yang berserakan
Mencoba membuatnya utuh
Meski takkan pernah menyatu

Malam,
Hujan,
Dan serpihan kenangan yang tersisa
Membuatnya indah.

Kamu
Aku
Dan kisah yang terajut
Membuatnya merah.

Kusadari kini
Masih ada bayangmu
Dalam malam yang kian menua
Dalam hati yang kian mencinta
Pun fikir yang mulai melupa